Sabtu, 06 Oktober 2012

Laporan Praktikum struktur sel

PRAKTIKUM I
A.Judul
Mengenal struktur sel dan pembuatan preparat
B.Tujuan
Mahasiswa diharapkan dapat :
1.Menjelaskan struktur sel hewan dan sel tumbuhan
2.Menyebutkan bagian-bagian sel hewan dan sel tumbuhan
3.Mengetahui cara pembuatan sediaan segar
C.Dasar Teori
1.Sejarah dan Pengertian sel
Istilah sel dalam bahasa Yunani : kytos = sel , bahasa Latin : Cella = Ruang kosong. Pertama kali digunakan oleh Robert Hooke (1635-1703) pada waktu mengamati irisan gabus dengan menggunakan mikroskop, ia melihat irisan tersebut terdiri atas ruang-ruang kecil yang berbentuk seperti kotak.
Sel merupakan kesatuan dasar struktural dan fungsional makhluk hidup. Sebagai kesatuan struktural berarti makhluk hidup terdiri atas sel-sel. Makhluk hidup yang terdiri atas satu sel disebut makhluk hidup ber sel tunggal (uniseluler) dan makhluk hidup bersel banyak (multiseluler).
Tubuh manusia terdiri atas berjuta-juta sel yang mempunyai berbagai bentuk. Sel-sel yang sama atau mirip bentuknya secara bersama-sama membentuk jaringan tertentu, misalnya jaringan otot, jaringan syaraf, dan lain-lain. Ada sel yang mempunyai bentuk bulat pipih, bentuk serabut panjang, bentuk kubus, dan lain-lain. Beberapa contoh bentuk sel ialah sel pada jaringan penghubung, sel darah merah (eritrosit) dan sel darah putih (leukosit), sel jaringan syaraf, sel otot dan sel ginjal. Selain bentuk yang berbeda beda, ukuran sel pun bermacam-macam. Sel eritrosit mempunyai diameter 0,008 mm, sel otot berukuran panjang 4 cm, sel saraf dapat mencapai ukuran panjang 70 cm dengan diameter 0,125 mm.
Sebagian besar sel berdiameter antara 1 sampai 100 μm sehingga hanya bisa dilihat dengan menggunakan mikroskop. Perhatikan bahwa skala yang dipakai berupa logaritma untuk mengakomodasi kisaran ukuran yang ditunjukkan. Skala dimulai di bagian atas dengan 10 meter dan menurun, setiap pengukuran di sisi kiri menunjukkan pengecilan ukuran sepuluh-kali.
2.Sel prokariotik dan sel eukariotik
Pada tahun 1957 Dougherty mengemukakan dua istilah sel, yaitu prokariotik dan eukariotik.
a.Sel prokariotik adalah sel yang tidak memiliki membran inti yang membatasi materi inti (DNA), contohnya bakteri dan ganggang biru. Sel bakteri dibatasi oleh membrane plasma, di dalamnya terdapat bahan semi cair yang dinamakan sitosol yang mengandung organel organel.
b.Sel eukariotik adalah sel yang memiliki membran inti yang membatasi materi inti (DNA) dengan sitoplasma, contohnya sel hewan dan sel tumbuhan. Sel eukariotik mempunyai susunan dan komponen yang lebih kompleks. Di dalam plasma sel terdapat inti sel dan organel lain yang secara terpisah terbungkus oleh membran, misalnya mitokondria, ribosom, dan lain-lainnya. Pernapasan sel berlangsung pada mitokondria. Oksigen dari luar sel masuk ke dalam sel melalui membran mitokondria. Dalam mitokondria oksigen digunakan dan karbondioksida yang terbentuk dikeluarkan dari mitokondria dan kemudian dikeluarkan dari dalam sel melalui membran plasma.
3. Organel-organel sel dan fungsinya
a. Nukleus (Inti sel) merupakan inti sel yang umumnya berbentuk bulat dan terletak di bagian tengah sel. Nukleus berfungsi untuk mengatur segala aktivitas dalam sel. Mengandung beberapa enzim antara lain DNA polimerase, RNA polimerase, dan enzim yang digunakan dalam proses glikolisis maupun dalam siklus asam sitrat. Terpisah dari sitoplasma oleh membran inti.
b.Membran sel adalah membran yang menyelubungi plasma sel. Struktur membran sel merupakan mosaik fluida yang terdiri atas lipid, protein, dan karbohidrat. Membran plasma berfungsi untuk mengatur lingkungan dalam sel, dan membatasi perpindahan zat-zat yang terlibat pada reaksi dalam sel.
c.Sitoplasma adalah fase cair dalam sel yang mengandung berbagai macam konstituen berupa organel sel, antara lain mitokondria, ribosom, dan lain-lain.
d.Mitokondria adalah organel yang berbentuk lonjong dan panjang dengan berbagai ukuran dan jumlah yang bervariasi. Mitokondria berfungsi sebagai tempat berlangsungnya oksidasi zat-zat makanan yang menghasilka energy.
e.Retikulum endoplasma merupakan lorong-lorong kecil yang masuk ke bagian dalam sitoplasma dan membentuk jarring-jaring. Retikulum endoplasma terdiri dari retikuum endoplasma kasar dan retikulum endoplasma halus. Retikulum endoplasma kasar ditempeli oleh ribosom sedangkan pada retikulum endoplasma halus tidak. Retikulum endoplasma kasar berfungsi sebagai tempat sintesis protein, sedangkan retikulum endoplasma halus berfungsi untuk sintesis lipid.
f.Dinding sel adalah pelindung yang hanya dimiliki sel tumbuhan. Sel muda mula-mula membentuk dinding primer tipis, sering kali ada penambahan dinding sekunder yang lebih kuat di bagian dalam dinding primer ketika pertumbuhan terhenti. Lamela tengah yang lengket melekatkan sel-sel yang berdekatan menjadi satu. Dengan demikian, partisi multi-lapis di antara sel-sel ini terdiri atas dinding penghubung yang masing-masing disekresikan oleh selnya sendiri. Dinding ini tidak mengisolasi selnya: Sitoplasma dari salah satu sel berlanjut dengan sitoplasma dari sel tetangganya melalui plasmodesmata, saluran yang melintasi dinding (TEM).
4.Sel hewan dan sel tumbuhan
Pada sel tumbuhan, sel hewan dan sel eukariotik lainnya terdapat membran plasma yang membatasi sel dengan lingkungan luarnya, juga terdapat system membran dalam (internal) yang membatasi organel-organel dibagian dalam sel sitoplasma. Nukleus (inti) dibatasi oleh membran inti sehingga membran-membran yang ada didalamnya terpisah sitoplasma. Vakuola terpisah dari sitoplasma karena dibatasi oleh membran (tonoplas). Demikian juga pada organel bermembran lainnya, yang terpisah satu sama lain sehingga masing-masing organel menyelenggarakan reaksi-reaksi kimia secara terpisah. Dengan kata lain sel eukariotik telah mengalami kompartementasi yang terbagi dalam beberapa ruang. Pada sel hewan dan sel tumbuhan terdapat beberapa perbedaan yakni pada sel tumbuhan terdapat dinding sel, plastida, dan vakuola berukuran besar sedangkan pada sel hewan tidak. Pada sel hewan terdapat sentrosom, lisosom dan vakuola berukuran kecil, sedangkan pada sel tumbuhan tidak. Pada sel hewan dan sel tumbuhan terdapat pila perbedaan bentuk, yaitu sel hewan memiliki bentuk yang berubah-ubah sedangkan sel tumbuhan memiliki bentuk yang tetap karena adanya didinding sel yang menyebabkan sel tumbuhan mempertahankan bentuknya.
D.Alat dan bahan
1.Miokroskop 6. Selaput dalam umbi bawang merah
2.Pipet tetes 7. Aquadest
3.Gelas objek 8. Mukosa pipih
4.Gelas penutup 9. Tusuk gigi
5.Kapas
E.Prosedur kerja
a.Pembuatan preparat tumbuhan
1.Mengambil selaput bagian dalam umbi lapis yang berwarna putih dari bawang merah dengan menggunakan pinset.
2.Meletakkan selapuh tipis tersebut pada gelas objek.
3.Meneteskan aquadest, kemudian menutupnya dengan gelas penutup.
4.Mengamati dibawah mikroskop dan menggambar 2-3 sel serta memberikan keterangan dari bagian-bagian sel yang nampak.
b.Pembuatan preparat hewan
1.Menggunakan tusuk gigi untuk mengorek secara perlahan-lahan bagia dalam pipih.
2.Setelah di dapat bagian dalam mukosa pipih, meletakkannya di atas kaca preparat.
3.Meneteskan aquadest, kemudian menutupnya dengan gelas penutup.
4.Mengamati di bawah mikroskop.
F.Hasil pengamatan
a.Sel Tumbuhan
a.Dinding sel
b.Sitoplasma
c.Inti sel (nukleus)
Perbesaran 40×10
b.Sel Hewan
a.Inti sel (nukleus)
b.Membran plasma
c.Sitoplasma
Perbesaran 30X10
G.Pembahasan
Berdasarkan pengamatan, terdapat perbedaan pada sel umbi bawang merah dan mukosa pipih di temukan beberapa organel dengan struktur yang berbeda-beda,yakni:
1.Pada Umbi bawang merah terdapat :
a. Dinding Sel
Dinding sel hanya terdapat pada sel tumbuhan. Dinding sel itu tipis, berlapis-lapis, dan pada tahap awalnya lentur. Lapisan dasar yang terbentuk pada saat pembelahan sel terutama adalah pektin, zat yang membuat agar-agar mengental. Lapisan inilah yang merekatkan sel-sel yang berdekatan. Setelah pembelahan sel, tiap belahan baru membentuk dinding dalam dari serat selulosa. Dinding ini terentang selama sel tumbuh serta menjadi tebal dan kaku setelah tumbuhan dewasa. Pada dinding sel ada bagian yang tidak menebal, yaitu bagian yang disebut noktah. Melalui noktah ini terjadi hubungan antara antara sitoplasma satu dengan yang lain yang disebut plasmodesmata. Plasmodesmata berupa juluran plasma, yang berfungsi menjadi pintu keluar masuknya zat. Sebagian besar isi dari sel berupa air. Tekanan air atau isi sel terhadap dinding sel disebut tekanan turgor. Dinding sel dan vakuola berperan dalam turgiditas sel.
b. Membran plasma
Membran sel merupakan lapisan yang melindungi inti sel dan sitoplasma Membran sel membungkus organel-organel dalam sel. Membran sel juga merupakan alat transportasi bagi sel yaitu tempat masuk dan keluarnya zat-zat yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan oleh sel.
Protein membran tersusun secara tidak beraturan yang menembus lapisan lemak. Jadi dapat dikatakan membran sel sebagai struktur yang dinamis dimana komponen-komponennya bebas bergerak dan dapat terikat bersama dalam berbagai bentuk interaksi semipermanen dan memiliki permeabilitas tertentu sehingga tidak semua molekul dapat melalui membran sel. Komponen penyusun membran sel antara lain adalah phosfolipids, protein, oligosakarida, glikolipid, dan kolesterol.
c. Sitoplasma
Sitoplasma merupakan cairan yang terdapat di dalam sel, kecuali di dalam inti dan organel sel. Khusus cairan yang terdapat di dalam inti sel dinamakan nukleoplasma. Sitoplasma bersifat koloid, yaitu tidak padat dan tidak cair. Penyusun utama dari sitoplasma adalah air yang berfungsi sebagai pelarut zat-zat kimia serta sebagai media terjadinya reaksi kimia sel.
2.Pada Mukosa Pipih terdapat :
a.Inti Sel
Nukleus (inti sel) terdiri dari selaput inti, nukleoplasma, nucleolus dan kromatin. Nukleus merupakan sumber segala kegiatan kehidupan sel, karena memiliki kromatin yang mengandung ADN. Jika sel tidak berinti maka kegiatan sel umumnya terbatas sekali seperti dijumpai pada eritrosit mamalia. Nukleus mengandung sebagian gen yang mengontrol sel eukariotik. (sebagian gen terletak dalam mitokondria dan kloroplas) Nukleus ini umumnya merupakan organel yang paling mencolok dalam sel eukariotik, rata-rata berdiameter 5µm. selubung nokleus menutupi nucleus yang memisahkan isinya dari sitoplasma.
b.Membran Plasma
Membran sel merupakan lapisan yang melindungi inti sel dan sitoplasma Membran sel membungkus organel-organel dalam sel. Membran sel juga merupakan alat transportasi bagi sel yaitu tempat masuk dan keluarnya zat-zat yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan oleh sel. Struktur membran sel yaitu model mozaik fluida yang dikemukakan oleh Singer dan Nicholson pada tahun 1972. Pada teori mozaik fluida membran merupakan 2 lapisan lemak dalam bentuk fluida dengan molekul lipid yang dapat berpindah secara lateral di sepanjang lapisan membran. Protein membran tersusun secara tidak beraturan yang menembus lapisan lemak. Jadi dapat dikatakan membran sel sebagai struktur yang dinamis dimana komponen-komponennya bebas bergerak dan dapat terikat bersama dalam berbagai bentuk interaksi semipermanen dan memiliki permeabilitas tertentu sehingga tidak semua molekul dapat melalui membran sel. Komponen penyusun membran sel antara lain adalah phosfolipids, protein, oligosakarida, glikolipid, dan kolesterol.
c.Sitoplasma
Sitoplasma merupakan cairan yang terdapat di dalam sel, kecuali di dalam inti dan organel sel. Khusus cairan yang terdapat di dalam inti sel dinamakan nukleoplasma. Sitoplasma bersifat koloid, yaitu tidak padat dan tidak cair. Penyusun utama dari sitoplasma adalah air yang berfungsi sebagai pelarut zat-zat kimia serta sebagai media terjadinya reaksi kimia sel.
H.Kesimpulan
Dari hasil pratikum tersebut dapat disimpulkan, bahwa tumbuhan Allium cepa (bawang merah) dan mukosa pipih mengandung banyak sel yang didalamnya terdapat inti sel dan bagian-bagian sel lainnya, yakni dinding sel, membran plasma, dan sitoplasma. Semakin besar perbesaran yang di gunakan pada mikroskop maka semakin besar pula sel-sel yang diperoleh, dan semakin kecil perbesaran yang yang di gunakan maka semakin semakin kecil pula sel-sel yang di hasilkan dari percobaan tersebut.
I.Tugas
1.Gambarkan dan tentukan bagian-bagian sel tumbuhan dan hewan
2.Jelaskan 3 macam sediaan yang anda ketahui
3.Gambarkan secara skematik cara membuat irisan
Jawaban :
1.
2.Tiga macam sediaan:
a. Sediaan Segar yaitu sediaan yang langsung dibuat saat penelitian dan hanya bisa di gunakan sekali percobaan (tidak tahan lama).
b. Sediaan semi-awetan yaitu sediaan yang telah diawetkan tetapi hanya tahan beberapa waktu saja dan dapat digunakan untuk beberapa kali dalam percobaan.
c. Sediaan Awetan yaitu sediaan yang telah diawetkan dan bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama atau selama–lamanya (tahan lama) .
3.Skema pembuatan irisan
Daftar Pustaka
Campbell, 2002. Biologi, edisi kelima ( Jilid I), Jakarta: Penerbit Erlangga
Poedjiadi, Anna. 2009. Dasar-dasar Biokimia, edisi revisi, Jakarta: UI-Press
Anonim, 2009. Dinding sel (online), http://scribd.com/documents/20535810
Anonim, 2010. Struktur dan fungsi sel (Online), http://scribd.com/documents/34519631

Kamis, 27 September 2012

SKILL LAB 6 - MEMBERI KABAR BURUK

“S.P.I.K.E.S.”
S – etting, listening Skills
P – atient’s Perception
I – nvite patient to share Information
K – nowledge transmission
E - xplore Emotions and Empathize
S – ummarize & Strategize

1. Setting, Listening Skills
Sebelum menyampaikan kabar buruk kepada pasien, perlu adanya persiapan untuk menjamin kelancaran penyampaian informasi kepada pasien, sebagai berikut:
-          Persiapkan diri sendiri
  • Dokter sebagai penyampai ‘bad news’ mempersiapkan mental terlebih dahulu agar tidak ikut larut dalam emosi pasien nantinya, namun tetap berempati sebagaimana mestinya.
  • Perkenalkan diri
  • Yang harus dihindari: tampak nervous di hadapan pasien, bahkan sebelum menyampaikan kabar buruk.
  • Tips: siapkan tissue di saku, untuk diberikan pada pasien bila pasien menangis
-          Privasi pasien
  • Penyampaian kabar buruk tidak boleh dilakukan di tempat yang ramai atau banyak orang
  • Hendaknya dilakukan di tempat tenang yang tertutup seperti kamar praktek ataupun dengan menutup tirai di sekeliling tempat tidur pasien
-          Libatkan pendamping
  • Untuk menghindari kesan kurang baik yang dapat muncul bila pasien dan dokter berada di tempat tertutup (untuk menjaga privasi), diperlukan satu pendamping
  • Perkenalkan pendamping kepada pasien
  • Yang dapat menjadi pendamping:
    • Keluarga terdekat pasien à satu saja, apabila terlalu banyak dapat menyulitkan dokter untuk menangani emosi dan persepsi banyak orang sekaligus
    • Perawat atau ko ass yang ikut terlibat dalam perawatan pasien
-          Posisi à duduk
  • Posisi pasien dan dokter sebaiknya setara. Dokter menyampaikan kabar buruk dalam posisi duduk
  • Tujuan: untuk menghilangkan kesan bahwa dokter berkuasa atas pasien dan memojokkan pasien
  • Sebaiknya penghalang fisik seperti meja, dihindari. Duduk di tepi tempat tidur pasien jauh lebih baik.
-          Listening mode: ON
  • Sebelum menyampaikan kabar buruk, hendaknya persiapkan kemampuan ‘mendengar’, secara prinsip meliputi:
    • Silence
      • Jangan memotong kata-kata pasien ataupun berbicara tumpang tindih dengan pasien
      • Repetition
        • Ulangi kata-kata pasien atau berikan tanggapan, untuk menunjukkan pemahaman terhadap apa yang ingin disampaikan pasien
-          Availability
  • Dokter harus ada di tempat mulai awal hingga akhir penyampaian kabar buruk
  • Jangan sampai ada gangguan berupa interupsi, seperti
    • Ada sms, telepon, atau sekedar missed call saja à matikan hp, atau aktifkan mode silent
    • Ada tamu – minta bantuan pada perawat untuk mengatasi tamu yang mungkin datang
2. Patient’s Perception
-          Sebelum menyampaikan kabar buruk, hendaknya dokter mengetahui persepsi pasien terhadap:
  • Kondisi medis dirinya sendiri
    • Tanyakan sejauh mana informasi yang pasien ketahui tentang penyakitnya beserta kemungkinan terburuk yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut
  • Harapannya terhadap hasil medikasi yang ia tempuh
    • Tanyakan perkiraan pasien terhadap hasil medikasi
-          Tujuan mengetahui kedua aspek tersebut bukan semata-mata untuk mengubah persepsi pasien agar sesuai dengan kenyataan, melainkan sebagai jalan untuk menilai kesenjangan antara persepsi dan harapan pasien dengan kenyataan à sebagai pertimbangan penyampaian kabar buruk agar tidak terlalu membuat pasien terguncang.
3. Invitation to share Information
-          Tanyakan apakah pasien ingin tahu perkembangan mengenai keadaannya atau tidak. Apabila pasien menyatakan diri belum siap, pertimbangkan untuk menyampaikan di waktu lain yang lebih tepat dan minta pasien untuk mempersiapkan diri terlebih dahulu
-          Apabila pasien menyatakan ingin tahu perkembangan mengenai keadaannya, tanyakan sejauh mana ia ingin tahu, secara umum ataukah mendetail
4. Knowledge transmission à Penyampaian ‘bad news’
-          Sebelum menyampaikan kabar buruk, lakukan ‘warning shot’ sebagai pembukaan à katakan pada pasien bahwa ada ‘kabar buruk’ yang akan disampaikan pada pasien
-          Cara penyampaian:
  • Gunakan bahasa yang sama dan hindari jargon medis.
  • Bila bahasa pasien berbeda, gunakan penerjemah yang kompeten, sebaiknya:
    • Mengerti dan dapat menggunakan bahasa yang digunakan pasien
    • Mengerti dan dapat menggunakan bahasa yang digunakan dokter
    • Dapat mengemas jargon-jargon medis ke dalam bahasa yang dimengerti pasien àsebaiknya perawat atau ko ass
    • Bukan merupakan keluarga pasien à penerjemah dari pihak pasien dapat menyebabkan peran ganda (sebagai keluarga pasien dan sebagai penyampai kabar buruk dari pihak medis)
  • Sampaikan informasi sedikit demi sedikit (bertahap)
    • Setiap menyampaikan sepenggal informasi, nilai ekspresi dan tanggapan pasien, beri waktu pasien untuk bertanya ataupun sekedar mengekspresikan emosinya.
    • Bila kondisi pasien tampak memungkinkan untuk menerima informasi tahap selanjutnya, teruskan penyampaian informasi.
    • Bila pasien tampak sangat tergunjang hingga tidak memungkinkan untuk menerima lebih banyak informasi lagi, pertimbangkan penyampaian ulang kabar buruk di lain waktu sambil mempersiapkan pasien.
  • Sampaikan dengan intonasi yang jelas namun lembut, tempo yang tidak terlalu cepat dengan jeda untuk member kesempatan pada pasien dalam mencerna kalimat yang ia terima.
5. Explore Emotions and Empathize
-          Amati selalu ekspresi dan emosi pasien serta apa yang mendasari perubahan emosinya (informasi mana yang merubah emosinya), nilai sejauh mana kondisi emosi pasien
-          Tunjukkan pengertian atas kondisi emosi pasien. Dalam hal ini, menunjukkan pengertian tidak diartikan sebagai ‘mengerti apa yang dirasakan pasien’, namun lebih pada ‘dapat memahami bahwa apa yang dirasakan pasien saat ini adalah sesuatu yang dapat dimaklumi’.
6. Summarize and Strategize
-          Di akhir percakapan, review kembali percakapan secara keseluruhan:
  • simpulkan ‘kabar buruk’ yang tadinya disampaikan secara bertahap (sedikit demi sedikit)
  • Simpulkan juga tanggapan yang diberikan pasien selama kabar buruk disampaikan à tunjukkan bahwa dokter mendengarkan dan mengerti apa yang disampaikan pasien
  • Berikan pasien kesempatan bertanya
  • Berikan feed back
  • Percakapan yang ada harus terdokumentasi dalam rekam medis pasien. Harus tertera dengan jelas:
    • Apa yang telah dikatakan atau disampaikan, dan kepada siapa
    • Terms used – tumor, massa, dll
    • Informasi spesifik mengenai pilihan terapi dan prognosis
-          Diskusikan rencana untuk menindaklanjuti kabar buruk yang telah disampaikan pada pasien
  • Untuk mengajak pasien ikut serta (pro aktif) dalam medikasi terhadap dirinya (both doctor and patient will play role to take next steps).

KANKER

Tahap-tahap Penanganan Kanker Bookmark and Share
Tidak gampang dokter bedah menyatakan seorang pasien menderita kanker. Dan tidak mudah juga prosedur yang harus dilewati sebelum kesimpulan ini berani diungkapkan. Jangan ditanya bagaimana berat pukulan yang diderita seseorang dengan menyandang predikat ‘penderita kanker’. Akan dapat membuat terkuras deras kekuatan fisik, mental, kehidupan sosial, dan kondisi finansialnya. Hal inilah yang sering menghantui para remaja putri, ibu muda, atau siapa saja yang merasa di tubuhnya timbul benjolan yang tidak wajar. Sekalipun sekilas terkesan over suspected, mereka yang mempunyai  pengetahuan dan rasa ingin tahu yang lebih ini setidaknya lebih baik dibandingkan sekelompok mereka yang acuh terhadap kejadian itu hingga telah terlambat baru menyadarinya. Dampaknya bisa kita lihat sekarang ini begitu banyak muncul kelompok diskusi, promosi, penyedia informasi, media berbagi yang pada intinya menyerukan upaya preventif sebagai antisipasi dan peningkatan survival atau setidaknya  quality of life bagi saudara-saudara kita yang terkena kanker. Di sisi lain, mungkin dirasakan masih minim media yang memfasilitasi penyampaian informasi dari dokter yang dalam hal ini sebagai judge of treatment dan decision maker tahap penanganan kanker itu selanjutnya.

Tidak lagi mengulas apa itu kanker, dan atas masukan beberapa teman, tulisan ini mencoba memberikan informasi bagaimana seharusnya seorang dokter menggiring pasiennya untuk melewati langkah demi langkah menuju diagnostik dan therapy yang benar. Sehingga si pasien tidak sampai salah jalan, tidak lagi merasa bosan, dan tidak mengambil atau mau diajak ikut jalan pintas oleh dokternya. Ini semua demi mencapai hasil pengobatan yang optimal.

Pencatatan Dan Pemeriksaan Fisik Yang Cermat

tahap-tahap_kankerSeringnya awal itu menjadi penentu. Pengumpulan data yang kelihatannya sepele ini menjadi penting maknanya tatkala di kemudian waktu informasi ini dibutuhkan. Data itu menyangkut umur, jenis kelamin, tempat tinggal, pekerjaan, status perkawinan, riwayat keluarga, dan lain-lain. Hal ini akan berkaitan dengan faktor resiko seseorang terkena kanker. Dari penampakan dan pemeriksanan fisik saja seorang dokter bedah berpengalaman sudah bisa curiga tumor atau kelainan yang diderita pasiennya termasuk ganas atau tidak. Benjolan yang membesar agresif, tumbuh dalam waktu singkat, batas tidak tegas, terfiksir di bagian lain di sekitarnya, apalagi nampak adanya luka borok, dapat dicurigai suatu tumor itu ganas. Kecurigaan bertambah jika penderita tersebut mengalami penurunan kondisi secara drastis. Dari pemeriksaan fisik juga diharapkan pemeriksa dapat menentukan tumor primer yang jelas, adanya pembesaran kelenjar limfe, memperkirakan tumor tersebut bisa dioperasi bersih (operable) atau tidak, dan mencari apakah ada kelainan/penyakit lain yang diderita selain tumornya. Jika keadaan-keadaan ini luput dari perhatian dan dengan under estimate seorang dokter bedah gegabah melakukan tindakan operasi untuk mengangkat tumor secara langsung, bisa jadi tindakannya malah membangunkan macan tidur karena tidak menjalankan prinsip-prinsip onkologi secara benar. Atau lebih sering terjadi apa yang disebut hoopla surgery yaitu bedah dengan perasaan kaget melihat kenyataan jaringan tumor yang akan dioperasi tidak sesuai dengan perkiraan sebelumnya…

Penentuan Stadium Tumor

Berdasarkan pertemuan pakar onkogi sedunia telah disepakati bahwa patokan untuk menntukan stadium tumor ganas dinilai dari 3 hal yaitu TNM (tumor, node, metastase): besarnya tumor itu sendiri, node atau kelenjar limfe yang terkena di sekitarnya, dan ada tidaknya metastase. Pada tahap inilah selain pemeriksaan fisik yang cermat, dibutuhkan juga pemeriksaan penunjang lainnya, seperti foto x-ray dada, USG, bone scanning, CT scan, ataupun petanda tumor. Yang dicari adalah kemungkinan adanya penyebaran tumor di bagian organ yang dideteksi. Dari data ini kemudian ditentukan T-nya berapa, N-nya berapa, dan M-nya ada atau tidak. Perhitungan besarnya T dan jauhnya N dari tumor primer masing-masing kanker di lokasi tertentu di tubuh kita mempunyai topografi atau batas-batas tersendiri. Kemudian dari sini ditentukan stadiumnya. Stadium I, IIA, IIB, dan seterusnya. Misalnya tumor ganas paru berdiameter 4 cm, didapatkan pembesaran kelenjar di areal dekat saluran nafas pada sisi yang sama, tanpa ada penyebaran, maka termasuk T2N1M0 atau stadium II.

Pemeriksaan Biopsi

Pemeriksaan mikroskopik terhadap sample tumor yang bisa menggambarkan histopatologis –struktur dan kateristik sel- dari jaringan yang dicurigai kanker tersebut. Ini menjadi penentu seseorang dapat divonis terkena kanker atau tidak. Memang sangat dipengaruhi sekali pada saat pengambilan bahan biopsi, sudah dapat mewakili seluruh kondisi tumor atau belum. Ada beberapa cara pengambilan biopsi. Hal ini bisa dipilih dengan pertimbangan letak tumor, efektivitas pengambilan, fasilitas yang tersedia dan kemungkinan radikalitas tumor itu sendiri. Dikenal ada: open biopsy (eksisi dan insisional biopsy), biopsy jarum, trucut biopsy, punch biopsy, dan curettage biopsy (biopsi kerokan). Dari pemeriksaan ini dapat ditentukan jenis, sifat sel tumor, dan tingkat diferensiasi (perubahan) sel dari struktur normal sehingga bisa diketahui seberapa ganasnya sel-sel tumor itu. Dari informasi ini kemudian dokter bisa memprediksi hasil therapy yang nantinya akan diberikan. Pengerjaan untuk melakukan biopsy dapat dilakukan sebelum pembedahan utamanya dikerjakan (yang ini lebih dianjurkan), atau bisa juga pada saat pembedahan sebagai upaya therapeutic. Yang paling penting diketahui bahwa apapun hasilnya, si pasien mempunyai hak untuk mengetahui dan mendapatkan hasil pemeriksaan patologi tersebut. Dan dokter dengan caranya tersendiri wajib menginformasikan hal itu secara langsung kepada si pasien.

Menentukan Keadaan Umum (Status Performance) Penderita

Setelah semua tahap di atas dijalani sampai mendapatkan kesimpulan jenis kanker apa dan seberapa parahnya, maka sebelum menentukan therapy yang akan diberikan, seorang dokter harus menilai dulu keadaan umum atau kondisi penderita. Mungkin saja tingkat keganasan tumornya masih rendah tapi kondisi tubuh yang lain dalam keadaan payah, tentu mempengaruhi pilihan therapy dan dosis yang diberikan karena therapy kanker itu sendiri, khususnya kemoterapi, membawa efek samping yang luar biasa. Sehubungan dengan ini, disamping cara pengukuran lain, dikenal lebih umum penggunaan score dari Karnovski yang berskala dari 0 – 100. Makin baik kondisi penderita, ia akan memiliki score mendekati 100. Dikatakan therapy untuk kanker akan beresiko pada penderita dengan score di bawah 30, dimana seorang penderita sudah tidak mampu lagi menjalankan aktifitas kesehariannya tanpa dibantu orang lain. Dari sini juga akan dinilai penyakit atau gangguan apa saja yang menyertai penderita kanker. Bisa itu implikasi dari keganasannya atau mungkin penyakit yang berdiri sendiri, seperti; kelainan jantung, diabetes, gagal ginjal, liver, dan lain-lain.

Menentukan Pilihan Jenis Therapy

Ada beberapa bentuk therapy untuk keganasan yang memiliki respon berbeda antar satu jenis kanker dengan jenis kanker yang lain. Jenis therapy itu meliputi; pembedahan, khemotherapy, radiotherapy atau therapy penyinaran, therapy hormonal, dan biotherapy. Dari data dan penelitian yang telah dipelajari, sudah dapat dipastikan satu keganasan lebih sensitif terhadap therapy A dibandingkan dengan therapy B. Namun dalam penerapannya akan memberi hasil lebih optimal kalau dikombinasi antar jenis therapy itu. Sehingga di bidang onkologi, therapy ini dapat digolongkan menjadi: therapy utama, therapy tambahan, therapy komplikasi, dan therapy suportif / bantuan. Misalnya, tumor ganas payudara atau carcinoma mammae, pembedahan merupakan therapy utamanya, sedangkan khemotherapy dan atau radiotherapy menjadi therapy  tambahan. Jika dilakukan pembedahan, ada dua tujuan utamanya, kalau bukan untuk kuratif (mengambil bersih tumornya), pembedahan bisa bertujuan hanya sebagai therapy paliatif, dengan maksud meringankan atau memperbaiki kondisi penderita tanpa memandang pengangkatan tumor itu tuntas atau tidak.

Implementasi Therapy

Dari sini ditentukan jenis pembedahan apa yang akan diambil, kalau itu memerlukan pembedahan. Kalau dibutuhkan kemotherapy, seberapa lama dan berapa seri akan diberikan, kombinasi dari obat kemotherapy apa saja dan seberapa banyak dosisnya. Begitu juga untuk radiotherapy dan hormonal therapy, dengan telah melewati tahap-tahap sebelumnya, semestinya sudah dapat ditentukan berapa banyak dosisnya, lama dan rentang waktu pemberiannya. Ini merupakan tahap akhir penanganan kanker yang justru sangat melelahkan dan menyakitkan bagi penderita. Di samping waktu pelaksanaannya lama, juga mengingat efek samping yang ditimbulkan obat-obat khemotherapy ini amat sangat tidak mengenakkan. Tidak jarang banyak penderita yang kelahan, bosan, putus asa dan tersiksa menjalaninya sehingga terpaksa harus menyerah di tengah jalan, terutama bagi mereka yang terkena kanker bermetastase (menyebar) yang tidak bisa lepas menjalani therapy ini seumur hidupnya.

Evaluasi Dan Monitoring

Untuk mengetahui hasil therapy yang telah diberikan, perlu diadakan evaluasi secara berkala. Bisa setiap 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun bahkan sampai 5 tahun sekali secara periodik. Evaluasinya oleh dokter melalui pemeriksaan fisik yang dilakukan dan atau ditambah pemeriksaan penunjang seperti yang sebelumnya dikerjakan, terutama untuk mendeteksi ada tidaknya sisa atau pertumbuhan penyebaran tumor itu lebih lanjut. Dari monitoring ini dapat saja seorang onkolog menurunkan dosis dan memperpanjang waktu serial therapy yang akan diberikan. Di sini dibutuhkan lagi disiplin serta semangat tinggi para penderita.

Bagi anda yang sedang berjuang melawan kanker, jangan putuskan asa anda, jangan patahkan semangat anda. Kuatlah berjuang. Isi waktu anda dengan aktivitas keseharian seperti biasa, jangan terlalu terlarut dengan kesedihan dan penyesalan diri. Studi membuktikan, bagi mereka yang bisa berpikir posistif apalagi mempunyai tipe kepribadian yang ekstrovert akan dapat meningkatkan 5 year survival rate-nya. Bisa menjalani hidup lebih lama dari prediksi yang diperkirakan sebelumnya…..

dr. Eka Kusmawan, SpB
Kepala Instalasi Kamar Operasi dan Ketua SMF Bedah Surya Husadha Hospital, Bali
Instruktur Nasional ATLS